Selasa, 28 Mei 2013

KOTA BONTANG

KOTA BONTANG

Kota Bontang adalah sebuah kota di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 120 kilometer dari Kota Samarinda, berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Timur di utara dan barat, Kabupaten Kutai Kartanegara di selatan dan Selat Makassar di timur. Letak geografisnya 0.137° LU dan 117.5° BT.
Lambang Kota BontangDi kota ini berdiri tiga perusahaan besar di bidang yang berbeda-beda, Badak NGL (gas alam), Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak) dan Indominco Mandiri (batubara) serta memiliki kawasan industri petrokimia yang bernama Kaltim Industrial Estate. Kota Bontang sendiri merupakan kota yang berorientasikan di bidang industri, jasa serta perdagangan. Kota Bontang selain terkenal karena ada tiga perusahaan itu, juga karena adanya keberadaan tim sepak bola, Bontang FC (dulu Bontang PKT) yang bermain di Superliga, Marching Band Bontang PKT binaan Pupuk Kalimantan Timur dan Marching Band Eroh Dahana Patra binaan Badak NGL. Sementara itu, studio siaran televisi lokal, LNGTV dan PKTV juga terletak di Kota Bontang. Letak Geografis : 1170 23’ – 1170 38’ BT dan 00 01’ – 00 14’ LU Luas Wilayah : 49.757 ha (4 mil laut) A. Luas daratan : 14.780 Ha (29,71%) B. Luas lautan : 34. 977 Ha (70,29%) Batas Wilayah > Sebelah Utara : Kecamatan Sangatta Kabupaten Kutai Timur > Sebelah Selatan : Kecamatan Marangkayu Kabupaten Kutai Kertanegara > Sebelah Timur : Selat Makassar > Sebelah Barat : Kecamatan Sangatta Kabupaten Kutai Timur Jumlah penduduk : 130.657 jiwa (per 30 April 2006) Kepadatan Penduduk : 884,01 jiwa/km2 Jumlah Kecamatan : 3 Kecamatan Jumlah Kelurahan : 15 Kelurahan Kota Bontang memiliki dua sekolah besar dan ternama, yaitu VIDATRA yang dibina oleh Badak NGL dan YPK binaan Pupuk Kalimantan Timur. Kantor pengurus Taman Nasional Kutai yang berada di utara Kota Bontang, juga berada di kawasan ini. Kota Bontang memiliki bandara yang dinamakan Bandar Udara Bontang. Semboyan Kota Bontang adalah "Kota TAMAN": "Tertib, Agamais, Mandiri, Aman dan Nyaman".

 
Asal-usul nama Bontang Dalam perbendaharaan asli Kalimantan, tidak dikenal kata "bontang". Menurut cerita turun-temurun, "bontang" merupakan akronim Bahasa Belanda “bond” yang berarti kumpulan atau Bahasa Inggris yang artinya ikatan persaudaraan serta “tang” dari kata pendatang. Sebutan ini diberikan karena cikal bakal kampung Bontang tidak lepas dari peran pendatang. Asal Muasal nama Bontang, berdasarkan kitab saway yang ada di Kesultanan Kutai Kartanegara bahwa yang memberi nama Bontang Adalah Adji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325) Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang. Pada awalnya, sebagai kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H. Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng dan Haji Amir Baida alias Bedang. Bontang terus berkembang sehingga pada 1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh Tetua Adat. Jauh sebelum menjadi wilayah Kota Administratif, sejak 1920 Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang yang diperintah oleh seorang asisten wedana yang bergelar Kiyai. Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan masih lekat dalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiai Anang Kempeng, Kiai Hasan, Kiai Aji Raden, Kiai Anang Acil, Kiai Menong, Kiai Yaman dan Kiai Saleh. Sebelum menjadi sebuah kota, status Bontang meningkat menjadi kecamatan dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam Pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang-undang No. 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Timur dengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.

Kota Bontang dikenal dengan kota industri dan jasa, dua sektor tersebut telah memberikan nilai pendapatan yang utama bagi daerah ini . Di Kota Bontang, dalam kawasan tiga perusahaan raksasa itu, berbagai fasilitas moderen lengkap tersedia, mulai dari fasilitas perumahan bagi karyawan, tempat olahraga, rekreasi, taman bermain, rumah sakit hingga hotel berbintang yang tentunya menambah kas daerah dari sektor jasa, sektor jasa dan industri pengolahan adalah dua lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Di sektor pariwisata, Wilayah pesisir dengan pantai yang bersih, landai, berpasir putih bisa menjadi obyek wisata yang potensial. Bontang Kuala misalnya, selain menarik wisatawan karena perkampungan nelayan di atas laut, juga tengah dikembangkan sebagai obyek wisata. Kota ini memiliki potensi menjadi kota pariwisata dengan beberapa tempat andalan, Pulau Beras Basah, Pulau Segajah serta Taman Nasional Kutai yang berdampingan dengan wilayah Kutai Timur. Potensi budidaya perikanan laut dengan komoditas unggulan berupa udang, kepiting, ikan kerapu, udang lobster, kakap merah, teripang, rumput laut dan tiram banyak diminta oleh pasar luar negeri. Gas Alam Cair (LNG) merupakan komoditi utama yang menopang perekonomian Kota Bontang. Kota ini dianugrahi kekayaan alam, terutama gas alam yang sangat besar. Pada tahun 2005 produksi LNG mencapai 42.889.510 M3. Sebagian besar produksi itu sebanyak 42.623.823 M3 untuk konsumsi ekspor. Perusahaan yang memproduksi dan mengekspor LNG adalah PT. Badak LNG & Co. Ekspor keseluruhan Kota Bontang menghasilkan devisa sebesar US$ 8.119.872.685. Sebagian besar nilai ekspor tersebut berasal dari ekspor migas, yaitu sebesar US$ 7.216.713.333,[rujukan?] sedangkan ekspor non migas hanya sebesar US$ 903.159.352. Selain LNG, di Kota Bontang terdapat industri lainnya, yaitu industri yang memproduksi amoniak dan urea. Perusahaan yang memproduksi dan mengekspor urea dan amoniak dari daerah ini adalah PT. Pupuk Kaltim. Produksi amoniak pada tahun 2005 mencapai 389.099 ton. Mayoritas dari produksi tersebut untuk keperluan ekspor, sebesar 311.230,68 ton. Sedangkan produksi Urea, dalam hal ini urea curah sebesar 1.009.693,79 ton. Seperti produk industri lainnya produksi urea curah untuk ekspor, mencapai sebesar 543.782,23 ton. Dilihat dari banyaknya industri, di Kota Bontang terdapat berbagai jenis industri antara lain industri aneka sebesar 196 buah, industri hasil pertanian dan kehutanan 299 buah dan industri logam, mesin dan kimia sebesar 205 buah. Industri aneka menyerap tenaga kerja 838 orang dengan nilai investasi sebesar Rp. 2,39 milyar. Sedangkan industri hasil pertanian dan kehutanan menyerap 893 tenaga kerja dan nilai investasi sebesar Rp. 14,91 milyar. Sementara industri logam, mesin dan kimia menyerap 4.020 tenaga kerja dengan nilai investasi sebesar Rp. 5,29 trilyun.

Potensi perikanan dan kelautan Kaltim itu tersebar di 14 kabupaten dan kota terutama di wilayah pantai seperti Kabupaten Bulungan, Berau, Kutai Timur, Bontang, Balikpapan, Tarakan, Penajam Paser Utara, dan Nunukan. "Apalagi, Kaltim masuk zona ekonomi eksklusif di Laut Sulawesi atau timur laut Kabupaten Nunukan dengan luas 2,75 juta hektare dan potensi tangkap ikan tuna cukup besar," dalam prediksinya. Selain itu, kawasan Teluk Balikpapan untuk kegiatan perikanan tangkap hingga 12 mil, pengelolaan lingkungan (daerah aliran sungai, pencegahan pencemaran industri dan pelayanan), budi daya perikanan karang, budi daya tambak, dan pengembangan pelabuhan perikanan di Manggar, Balikpapan. Ia mengatakan, penangkapan ikan berupa fishing ground di seluruh perairan Kaltim yang meliputi perikanan dermasal (dasar laut) antara lain jenis kakap, bawal, baronang, cucut atau hiu, pari, kuro, kakap merah, bambangan, udang barong, lobster, udang windu, dan udang dogol. Budidaya air payau atau tambak khusus jenis udang dapat dilakukan di Kabupaten Berau, Bulungan, Bontang, Tarakan, Kutai Kartanegara, dan Penajam Paser Utara. Selain itu, pembenihan udang di Balikpapan, Bontang, Berau, Tarakan, Kutai Barat, dan Paser. Pengolahan ikan akan diusahakan di Paser, Balikpapan, Kutai Timur, Nunukan, dan Berau, sedangkan pengalengan ikan di Balikpapan, Kutai Kartanegara, Tarakan, Berau, Kutai Timur, Bontang, Paser, Nunukan, dan Bulungan. Menurut dia, pengembangan perikanan untuk kawasan delta Mahakam dapat dilakukan melalui budi daya tambak, pusat pengolahan pascapanen termasuk pemasaran, dan pengelolaan lingkungan. Karang yang tumbuh di Perairan Kota Bontang sebagaian besar memiliki bentuk massive dan sub massive yang disebabkan oleh pengaruh polutan berupa sedimen. Sedimen yang terjadi kemungkinan berasal dari bahanbahan organik. Kondisi sedimentasi ini menyebabkan dominasi tumbuhnya karang jenis porites cylidrica atau karang foliose (montipora foliose) yang merupakan jenis karang hidup di perairan keruh akibat bahan organik tersebut. Penyebab kekeruhan mungkin berasal dari tumbuhan lamun atau mangrove yang hancur atau yang telah mati mengingat lokasi ekosistem terumbu karang yang berdekatan dengan lokasi lamun maupun mangrove.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar