Selasa, 28 Mei 2013

Kabupaten Kutai Timur

ALAT TANGKAP IKAN

Banyaknya jenis ikan dengan segala sifatnya yang hidup di perairan yang lingkungannya berbeda-beda, menimbulkan cara penangkapan termasuk penggunaan alat penangkap yang berbeda-beda pula. Adalah juga sifat dari ikan pelagis selalau berpindah-pindah tempat, baik terbatas hanya pada suatu daerah maupun berupa jarak jauh seperti ikan tuna dan cakalang yang melintsi perairan beberapa negara tetangga  Indonesia. Setiap usaha penangkapan ikan di laut pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan daerah penangkapan, gerombolan ikan, dan keadaan potensinya untuk kemudian dilakukan operasi penangkapannya. Beberapa cara untuk mendapatkan kawasan ikan sebelum penangkapan dilakukan menggunakan alat bantu penangkap yang biasa disebut rumpin dan sinar lampu. Kedudukan rumpon dan sinar lampu untuk usaha penangkapan ikan di perairan Indonesia sangat penting ditinjau dari segala aspek baik ekologi, biologi, maupun ekonomi. Rumpon digunakan pada siang hari sedangkan lampu digunakan pada malam hari untuk mengumpulkan ikan pada titik/tempat laut tertentu sebelum operasi penangkapan dilakukan dengan alat penangkap ikan seperti jaring, huhate dsb. Dilihat dari segi kemampuan usaha nelayan, jangkauan daerah laut serta jenis alat penangkapan yang digunakan oleh para nelayan Indonesia dapat dibedakan antara usaha nelayan kecil, menengah, dan besar. Dalam melakukan usaha penangkap ikan dari tiga kelompok nelayan tersebut digunakan sekitar 15 s/d 25 jenis alat penangkap yang dapat dibagi dalam empat kelompok sebagai berikut.

Kelompok Alat Tangkap Ikan Nelayan


1 Pukat Payang termasuk lampara, Pukat pantai, Pukat cincin
2 Jaring Jaring insang hanyut, Jaring insang lingkar, Jaring klitik, Jaring trammel
3 Jaring Angkat Bagan Perahu, Bangan Tancap, Bagan Rakit, Serok, Bondong dan banrong
4 Pancing Rawi tuna, Rawai hanyut selain, Rawai tetap, Huhate, Pancing tonda, Pancing tangan-handline
 

Penjelasan Singkat tentang Alat Penangkap Ikan Laut

Pukat cincin harus berbentuk selembar jaring yang terdiri dari sayap dan pembentuk kantong. Keberhasilan pengoperasian pukat cincin dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu ketepatan melingkari gerombolan ikan, kecepatan tenggelam pemberat dan kecepatn penatikan tali kolor. Pengaturan jaring harus tepat dan cepat sehingga gerombolan atau kawanan ikan tidak punya kesempatan untuk keluar dari lingkaran jaring. Payang mempunyai bentuk terdiri dari sayap, badan dan kantong, dua buah sayap yang terletak di sebelah kanan dan kiri badan payang, setiap sayap berukuran panjang 100-200 meter, bagian badan jaring sepanjang 36-65 meter dan bagian kantong terletak di belakang bagian badan payang yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan ikan adalah sepanjang 10-20 meter. Jaring insang hanyut yang digunakan harus mempunyai spesifikasi yang terdiri dari lima faktor utama, yaitu daya apung jaring harus lebih besar dari pada daya tenggelamnya, warna jaring yang baik adalah hijau sampai biru muda, benang yang digunakan adalah nylon benang ganda atau tunggal. Besar mata jaring adalah 2,5-3,0 inci yang dipasang pada tali ris atas dengan koefisien pengikatan 30-40% Jaring lampara mirip jaring payang yaitu terdiri dari sayap kiri dan kanan di samping kantong. Jaring tersebut dilengkapi dengan sebuah cincin dari besi berdiameter sekitar 2 meter. Kantong lampara lebih cenderung menggelumbung agar ikan pelagis kecil yang ditangkap tidak mudah mati (ikan umpan hidup). Jaring angkat adalah jaring yang diturunkan di laut dan diangkat secara vertikal ke atas pada saat gerombolan ikan ada di atas jaring tersebut. Jaring angkat ditempatkan di beberapa jenis bagan di laut atau dioperasikan dari perahu kecil maapun langsung oleh para nekayan dekat pantai. Berdasarkan bentuk dan cara pengoperasian ada beberapa macam jaring angkat maupun jaring dorong, misalnya bagan tancap (stationary), bagan rakit, bagan perahu, kelong Betawi, serok, jaring rajungan dan kepiting, Bondong dan banrong. Pecak dan Anco, jaring dorong, sodo biasa, sodo perahu, sodo sangir, siru, siu, songko dan seser. Dogol, cantrang, dapang, potol, payang alit bentuk alat penangkap tersebut mirip payang tetapi ukuran lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya ia menyerupai cicncin pukat (trawl), yaitu untuk menangkap ikan demersal dan udang. Jaring Penggiring adalah jaring yang dioperasikan sedemikian rupa, yaitu dengan melakukan penggiringan atau menghalau ikan-ikan agar masuk jaring atau menggerakkan jaring itu sendiri dari tempat yang agak dalam ke tempat yang lebih dangkal untuk kemudian dilakukan penangkapan ikan. Jaring penggiring atau drive-innet dapat terdiri dari jaring sayap dan jaring kantong, dapat juga berbentuk segi tiga atau segi empat lengkap dengan jaringan kantong. Jenis-jenis drive in-net yang terkenal di Indonesia adalah :muroami, soma malalugis, jaring kalase, jaring klotok, jaring saden,
pukat rarape, ambai, pukat rosa, dan talido. Alat pancing terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali dan mata kail. Jumlah mata yang terdapat pada tiap perangkat pancing bisa tunggal maupun ganda, bahkan banyak sekalli (beberapa ratus mata kail) tergantung dari jenis pancingnya. Selain dua komponen utama tali dan mata pancing, alat pancing dapat dilengkapi dengan komponen lainnya, misalnya tangkai (pole), pemberat, pelampung dan kilikili (swivel). Pada umumnya mata pancing diberikan umpan baik dalam bentuk mati maupun hidup atau umpan tiruan. Banyak mavam alat pancing digunakan oleh para nelayan, mulai dari bentuk yang sederhana sampai dalam bentuk ukuran skala besar yang digunakan untuk perikanan industri.

Daftar TTG Perikanan Tangkap Nama Teknologi Tepat Guna


1. Jaring Insang 3 Lembar
2. Penangkapan Udang
3. Penangkapan Udang Barong
4. Jaring Insang Satu Lembar
5. Penangkapan Ikan Cakalang
6. Jaring Ingsang Lingkar
7. Jaring Ingsang Giring
8. Alat Pengering Ikan Berbahan Bakar Sampah Plastik
9. Bubu Ikan Demersal
10. Bubu Gurita
11. Bubu Pintur Untuk Udang dan Kepiting
12. Bubu Keong Macan dari Bambu
13. Bubu Kepiting Bakau
14. Bubu Keong Macan dari Waring
15. Bubu Ikan Lindung dari Paralon
16. Bubu Ikan Lindung dari Bambu
17. Bubu Kepiting dan Udang Laut Dalam
18. Bubu Ikan Kakap
19. Pancing Cumi-Cumi
20. Kapal Ikan Hidup
21. Pancing Ranggung
22. Rawai Cucut
23. Rawai Dasar Untuk Ikan Kakap
24. Tuna Long Line
25. Pancing Rawai
26. Pancing Tonda
27. Payang
28. Pukat Cincin
29. Set Net
30. Sero
31. Bagan Perahu
32. Garuk/Saru
33. Jala Lempar
34. Model Kombinasi Flapper, Selektor dan Mata Jaring Bujursangkar Untuk Efisiensi Tenaga, Efektivitas Usaha dan Pelestarian Sumberdaya Ikan Pada Alat Tangkap
35. Teknologi Penangkapan Ikan dengan Jaring Millenium
36. O’o Line Alat Penangkapan Ikan Hias
37. Alat Pemanggil Ikan “Pikat”
38. Atraktor Cumi-Cumi
39. Set Net 2
40. Impes : Alat Penangkapan Udang
41. Alat Pemanggil Ikan
42. Bubu Udang Barong
43. TEKNOLOGI SET NET 3

Kategori Spesies

o Demersal Besar (22)
o Demersal Kecil (30)
o Ikan Hias (84)
o Krustasea (19)
o Mamalia (4)
o Moluska (11)
o Pelagis Besar (54)
o Pelagis Kecil (52)
o Sumber Daya Perikanan Lainnya (12)
o Perizinan Usaha Penagkapan Ikan
o Perizinan Asosiasi Organisasi Perikanan

Produksi ikan untuk kawasan sentra produksi penangkapan di wilayah pesisir dan wilayah perairan umum, meliputi:

1. Wilayah perairan umum meliputi kecamatan Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, Kenohan, Muara Kaman dan Kembang Janggut.
2. Wilayah pesisir meliputi kecamatan Anggana, Muara Jawa, Samboja, Muara Badak, Marang Kayu dan Sanga-Sanga. Produksi perikanan di Kabupaten Kutai timur pada tahun 2010 terealisasi sebesar 132.065,94 ton dari target produksi sebesar 119.187,00 ton, dengan nilai produksi Rp. 3.301.648.500,-. Kenaikan produksi ini dicapai dari kegiatan penangkapan 74.784 ton dan kegiatan budidaya sebesar 57.281,94 ton. Jika dibandingkan produksi perikanan pada tahun 2009 sebesar 93.467,0 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 2.063.504.000,- maka kenaikan produksi yang dicapai sebesar 41,29 persen. Produksi ini dicapai dari kegiatan penangkapan 52,045 ton dan budidaya 41.440 ton. Konsumsi hasil perikanan masyarakat Kabupaten Kutai timur pada tahun 2010 sebesar 72,4 kg/kapita/tahun, keadaan ini meningkat sebesar 0,8 persen dari angka pada tahun 2009 sebesar 71,8 kg/kapita/tahun.

Fishing ground

Potensi Kelautan & Perikanan

Potensi pengembangan usaha perikanan dan kelautan baik berupa penangkapan maupun budidaya di Kabupaten Kutai timur cukup besar. Hal ini ditunjang dengan keberadaan pantai sepanjang 187,5 km, perairan laut kurang lebih 1.312,5 km persegi dan perairan umum kurang lebih 79.228,15 ha (Danau 19.217 ha, sungai 22.302,15 ha, Rawa 37.661 ha, waduk 48 ha) dan embung 175 ha (lahan galian eks batu bara) dan Mina padi (INMINDI).

Dalam pengembangan usaha budidaya telah dikembangkan suatu kawasan sentra produksi yaitu:
1. Kawasan Sentra Produksi Wilayah Hulu
Meliputi kecamatan Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, Kembang Janggut dan Muara Kaman dengan komoditas unggulan ikan patin, jelawat dan betutu.
2. Kawasan Sentra Produksi Wilayah Tengah
Meliputi kecamatan Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Kulu dan Loa Janan, dengan komoditas unggulan berupa ikan nila dan ikan mas.
3. Kawasan Sentra Produksi Wilayah Pesisir
Meliputi kecamatan Anggana, Muara Jawa, Samboja, Muara Badak, dan Marang Kayu dengan komoditas unggulan udang windu, bandeng dan kepiting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar