Jumat, 31 Mei 2013

Kabupaten Bulungan


Potensi Perikanan
Kabupaten Bulungan adalah kabupaten yang terletak di sebelah utara Propinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Bulungan masuk ke dalam wilayah di sekitar alur laut kepulauan Indonesia II Selat Makassar. Luas wilayah perairan Kabupaten Bulungan adalah + 1.982.075 hektar dengan garis perairan/pantai sepanjang 381.755 kilometer

Potensi Wilayah

Usaha Perikanan Tangkap
Diperkirakan stock asessment / MSV ikan sejumlah 29.000 ton/tahun dengan produksi penangkapan ikan di laut baru 8.671,5 ton/tahun atau hanya 29,9 % dari potensi yang ada. Wilayah perikanan tangkap di sepanjang pantai Kecamatan Tanjung Palas, Bunyu dan Sesayap. Jenis ikan yang ditangkap di perairan Kabupaten Bulungan meliputi jenis ikan pelagis, ikan demersal dan ikan karangJuga ika-ikan ekonomis tinggi seperti : Udang, Kuro, Bawal Putih, Senangin, Kerapu, Kakap dll

Usaha Perikanan Budidaya
·         Budidaya Laut
Luas potensi 242.260 hektar yang sebagian besar belum tergarap
·         Budidaya Air Payau
Luas potensi lahan tambak 150.000 hektar, yang telah tergarap 90.000 hektar
·         Budidaya Air Tawar
Luas potensi lahan 2.701,575 hektar, yang baru tergarap 10 hektar
Kegiatan usaha pengolahan hasil perikanan yang ada di Kabupaten Bulungan pada umumnya masih berkisar dalam bentuk usaha rumah tangga (Home Industry) seperti Pengeringan / Pengasinan ikan Teri, Putih dan berbagai ikan non ekonomis (rucah)

Peluang Investasi Sektor Perikanan dan Kelautan di Kabupaten Bulungan.

Usaha Pembenihan Udang Windu (Hatchery)
Luas tambak prosuktif di Kabupaten Bulungan sekitar 60.000 Ha
Kebutuhan benur per ha/tahun 10.000 benur, maka benur yang dibutuhkan sebanyak 600 juta benur/tahun dan belum ada hatchery di Kabupaten Bulungan. Sementara ini petambak membeli benur yang berasal dari Pulau Jawa dan Sulawesi
Usaha Pembekuan Udang Windu (Cold Storage).
Sampai saat ini belum ada perusahaan yang membangun Cold Styorage di Kabupaten Bulungan, selama ini hasil produksi Udang Windu seluruhnya dibawa ke Cold Storage yang ada di Pulau Tarakan.
Usaha Penangkapan Ikan
Diperkirakan Stock Asssesment / MSV ikan sejumlah 29.000 ton/tahun dengan produksi penangkapan ikan di laut baru 8.671,5 Ton/tahun atau hanya 29,9% dari potensi yang ada.
Usaha Pengolahan Hasil Perikanan
Usaha pengolahan yang sudah mulai berkembang yaitu pengolahan udang kering, terasi, ikan asin/kering, ikan pipih, sirip ikan hiu. Namun usaha ini masih berskala rumah tangga/usaha kecil, dan untuk itu masih terbuka investasi pada usaha pengolahan hasil perikanan. Selain itu masih ada peluang usaha lain yaitu pembuatan tepung ikan dari bahan ikan rucah dan kulit udang yang selama ini tidak termanfaatkan.

(Data Dinas Perikanan dan Kelautan November 2006)
A. PERIKANAN BUDIDAYA
- Budidaya Tambak Air Payau : +100.000ha
- Budidaya Kolam Air Tawar : +33,78ha
- Keramba di Tg. Selor : 10 unit (demplot)
B. PERIKANAN TANGKAP
- Tugu : + 1.500 mata jaring berlokasi di sepanjang perariran Bunyu, muara sungai Tanah Merah, Muara Murungau Tengku Dacing Kec. Tana Lia, Muara Sekatak, Pulau Tudan Kec. Tg. Palas Tengah, dan Kuala Satu Kec. Tg. Palas Timur.
- Bagan : Bunyu 30 Unit, Tanah Kuning 20 Unit, Kampung Baru 150 Unit.

- Nelayan Gill Net, Pancing dan Trammel Net : + 1.500 Perahu, umumnya nelayan berasal dari Nunukan, Tarakan dan Berau.
C. PENGOLAHAN HASIL
·         Pembuatan Tepung Ikan di Karang Tigau Kec. Tg. Palas Timur Tahun 2006
·         Pengolahan Pakanb Ikan / Pellet di desa Apung Kec. Tg. Selor tahun 2006
·         Pembuatan Terasi di Tias desa Tg. Buka Kec. Tg. Palas Tengah
·         Ebi / Udang Kering di desa Tanah Merah dan Tengku Dacing Kec. Tana Lia, Tias desa Tg. Buka Kec. Tg. Palas Tengah, Siandau Kec. Sekatak.
·         Ikan Pari Tipis di Pulau Bunyu.
D. RENCANA PENGEMBANGAN
  1. Pengolahan Hasil Perikanan
o    Untuk mengembangkan kapasitas produksi direncanakan tahun 2007 Kec. Bunyu akan dijadikan sentra pengolahan hasil perikanan (tepung ikan dan pakan ikan)
o    Untuk mengembangkan kapasitas produksi direncanakan tahun 2007 Kec. Tana Lia, Sesayap, Sekatak dan Tg. Palas Tengah akan dijadikan sentra pengolahan hasil perikanan (udang kering /ebi) dengan cara memberdayakan nelayan tugu yaitu menambah kuantitas tugu bagi nelayan lokal.
  1. Membangun Sarana dan Prasarana Perikanan
o    Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kec. Bunyu tahun 2006.
o    Membangun Balai Benih Ikan (BBI) di Kec. Tg. Selor tahun 2005 hingga saat ini.
o    Rencana pembangunan tempat pendaratan ikan di Kec. Tg. Selor pada tahun 2007.

Rencana Pengembangan budidaya kolam udang galah seluas 100ha di Kab. Bulungan tahun 2007
Daftar Jenis Perizinan pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Bulungan (Lebih detailnya lihat Pelayanan Publik) 

§  Izin Usaha Perikanan (IUP)
§  Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI)
§  Surat Keterangan Asal (SKA)
§  Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI)

Selasa, 28 Mei 2013

Kabupaten Tarakan


Profil

Kota Tarakan memiliki posisi yang strategis bagi Propinsi Kalimantan Timur, yaitu sebagai penggerak pertumbuhan wilayah utara Propinsi Kalimantan Timur dan Pintu Gerbang kedua ( second gate ) bagi Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan, selain merupakan kota transit perdagangan antara Indonesia , Malaysia , Philipina. Jumlah penduduk Kota Tarakan terus meningkat. Pada tahun 1945, penduduk lokal Kota Tarakan yang umumnya dari suku Jawa, Thionghoa, dan Tidung tercatat hanya sekitar 5.000 orang ( menurut sumber lisan pada waktu itu sudah ada penduduk dari suku Bugis ). Pada pertengahan tahun 2006 meningkat 171.690 jiwa atau menjadi 34 kali dalam rentang waktu 61 tahun. Kepadatan penduduk saat ini sebesar 687 jiwa/Km. Kota Tarakan merupakan satu-satunya kota di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia dan juga merupakan kota terkaya ke-17 di Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 250,80 km² dan sesuai dengan data Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana, Kota Tarakan berpenduduk sebanyak 239.787 jiwa. Tarakan atau juga dikenal sebagai Bumi Paguntaka, berada pada sebuah pulau kecil. Semboyan dari kota Tarakan adalah Tarakan Kota "BAIS" (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera).

Potensi Perikanan Kota Tarakan

Besarnya wilayah lautan Kota Tarakan tentunya menyimpan potensi sumberdayaperikanan yang sangat besar baik perikanan laut maupun perikanan pesisir pantai (berupausaha budidaya air payau/tambak maupun budidaya air tawar/kolam). Kawasan pesisir pantaidi Kota Tarakan mencapai ± 70 Km2 yang juga sangat mendukung pengembangan eksplotasiperikanan sebagai mata pencaharian masyarakat di Kota Tarakan. Hal ini dapat menjadisolusi dalam mengatasi meningkatnya pendatang yang masuk ke Kota Tarakan, terutama yangbermukim pada wilayah-wilayah pesisir. Potensi perikanan akan lebih tereksploitasi dengansemakin meningkatnya penduduk yang mengandalkan mata pencaharian pada sektorperikanan ini.Potensi kelautan yang terdapat disekitar Kota Tarakan merupakan kekayaan alamyang diharapkan dapat menjadi sub sektor unggulan. Selain usaha penangkapan ikan, makapembudidayaan perikanan laut di sepanjang pantai Tarakan diharapkan dapat menjadikomoditas yang menjanjikan. Dilihat dari potensi perikanan laut yang ada diperkirakan potensi produksi perikanan di laut Tarakan mencapai 8.560 ton pertahunnya yang terdiri dari 5.000 ton dari produksipenangkapan, 3.500 ton produksi budidaya tambak dan 60 ton dari produksi budidaya ikan dikolam. Namun dari semua potensi yang ada tersebut baru sebesar 51,32 persen yang dapatdikelola baik nelayan penangkapan maupun nelayan budidaya. Dari kegiatan pengolahan ikan di Kota Tarakan terlihat terjadinya peningkatanproduksi pada tahun 2008 karena meningkatnya produksi pembekuan udang, yang lebihdiakibatkan meningkatnya pasokan bahan baku. Meningkatnya bahan baku pengolahan hasilperikanan ini juga merupakan salah satu indikator meningkatnya pendapatan para nelayanataupun pengusaha perikanan. Jenis ikan yng ada di tarakan sgt beraneka ragam, antara lain ikan sebelah, ikan gulama, bawal putih, bawal hitam, alu-alu, senangin/kurau, kerapu lumpur, sembilang, otek, pepija. Selain berbagai jenis ikan, terdapat pula biota laut lainnya. Seperti crustacea dan mollusca.
Beberapa jenis yang memiliki nilai ekonomis tinggi yaitu udang windu, udang putih, udang bintik, udang batu/merah, lobster, cumi-cumi, sotong, kepiting bakau, kepiting rajungan dan kerang dara.

Kapal yang digunakan yaitu

Sebagian besar nelayan tarakan adalah nelayan kecil yng menggunakan motor tempel atau kapal motor yang hanya berkekuatan antara 1GT-5GT, sehingga daerah penangkapannya terkonsentrasi pd perairan dibawah 4 mil. Bagi nelayan yang menggunakan perahu 1GT atau 2GT, dalam mengoperasikan alatnya menyesuaikan dengan musim gelombang. Pada saat musi teduh (bulan 6-9), saat tdk ada gelombang mereka bisa mengoperasikan alatnya hingga sampai 4 mil, tetapi pada saat gelombang besar (bulan 10-3) nelayan harus merapat ke pantai. Saat tidak ada gelombang mereka bisamengoperasikan alat tangkapnya jauh dari pantai sampai 4 mil, tetapi pada saat gelombang besar nelayanharus merapat ke pantai.
Nelayan lain yang menggunakan kapal motor diatas 5GT, bisa melakukan operasi penangkapan di wiayah perairan di atas 4 mil. Namun demikian, selain tergantung dari kekuatan kapal motornya, juga disesuaikan dengan alat untuk mengambil/menangkap sumberdaya laut. Seperti misalnya alat yang berupa jaring trawl berukuran kecil dioperasikan di perairan dengan kedalaman 7-15 meter, sedangkan trawl yang besar dikedalaman 60-70 meter,. Oleh karena itu nelayan yang menggunakan trawl besar biasanya tidak melakukan operasi penangkapan di perairan Tarakan yang hanya memiliki wilayah sampai 4 mil dan kedalaman airnya dibawah 60 meter. Mereka mengoperasikannya di perairan ujung, yaitu perairan wilayah utara Kalimantan Timur.

Daerah Penangkapan Ikan

Perbedaan lokasi penangkapan tiap kelompok nelayan juga dibedakan oleh alat tangkap (jarring/pukat) yang digunakan atau jenis sumberdaya yang akan ditangkap. Karena tiap jenis-jenis ikan memiliki habitat masing-masing yang berbedauntuk bertahan hidup. Selain itu tentunya alat yang digunakan atau jenis sumberdaya yang akan ditangkap. Karena tiap-tiap jenis ikan mempunyai habitat masing-masing yang berbeda untuk bertahan hidup. Mengenai jenis-jenis ikan yang bias di tangkap oleh nelayan Kalimantan timur.

·        Ikan gulama : ikan yg hidup bergerombol, terdapat di sepanjang kota tarakan. Ikan iini tertangkap dengan alat kelong, gillnet, pancing dan alat perangkap lainnya.
·         Bawal putih : ikan yang hidup di perairan Tarakan, kabupaten bulungan pada kedalaman 20-70 meter, hidup bergerombol. Alat tangkap yang digunakan adalah sero, jarring insang tetap, dan jarring hanyut.
·         Ikan sebelah : ikan yang hidup soliter, daerah penyebarannya pada daerah pantai berpasir sampai berlumpur sepanjang pantai tarakan, jenis ikan ini tertangkap dengan alat tangkap berupa pukat/jarring gondrong, pukat tarik, jermal dan sero.
·         Bawal hitam sama seperti bawal putih, hidup di perairan Tarakan, kabupaten Bulungan pada kedalaman 20-70 m, hidup bergerombol. Alat tangkap yang diigunakan untuk menangkap yaitu sero, jarring insang tetap, jarring hanyut.
·         Alu-alu, hidup di perairan pesisir pantai tarakan sampai ke atas pantai, jenis ini sangat soliter. Dan terkadang sering berada di permukaan perairan atau kadang di dasar perairan yang berpasir. Ikan ini sering tertangkap dengan jarring insang dasar, rawai, dan pancing.
·         Kerapu lumpur berada disisi sepanjang pantai yang berlumpur dan pada muara sungai. Alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan ini adalah jarring insang dasar, rawaio dan pancing.
·         Sembilang penebarannya pada daerah lumpur dan pada muara sungai. Alat tangkap yang digunakan yaitu jarring insang dasar, rawai, dan pancing.

Jumlah alat tangkap yang ada di Tarakan sampai akhir tahun 2004 mengalami peningkatan sebesar 3,01% dari jumlah yang ada pada tahun 2003, yaitu 3000 unit pada tahun 2003 menjadi 3090 unit pada tahun 2004.

Kabupaten Kutai Timur

ALAT TANGKAP IKAN

Banyaknya jenis ikan dengan segala sifatnya yang hidup di perairan yang lingkungannya berbeda-beda, menimbulkan cara penangkapan termasuk penggunaan alat penangkap yang berbeda-beda pula. Adalah juga sifat dari ikan pelagis selalau berpindah-pindah tempat, baik terbatas hanya pada suatu daerah maupun berupa jarak jauh seperti ikan tuna dan cakalang yang melintsi perairan beberapa negara tetangga  Indonesia. Setiap usaha penangkapan ikan di laut pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan daerah penangkapan, gerombolan ikan, dan keadaan potensinya untuk kemudian dilakukan operasi penangkapannya. Beberapa cara untuk mendapatkan kawasan ikan sebelum penangkapan dilakukan menggunakan alat bantu penangkap yang biasa disebut rumpin dan sinar lampu. Kedudukan rumpon dan sinar lampu untuk usaha penangkapan ikan di perairan Indonesia sangat penting ditinjau dari segala aspek baik ekologi, biologi, maupun ekonomi. Rumpon digunakan pada siang hari sedangkan lampu digunakan pada malam hari untuk mengumpulkan ikan pada titik/tempat laut tertentu sebelum operasi penangkapan dilakukan dengan alat penangkap ikan seperti jaring, huhate dsb. Dilihat dari segi kemampuan usaha nelayan, jangkauan daerah laut serta jenis alat penangkapan yang digunakan oleh para nelayan Indonesia dapat dibedakan antara usaha nelayan kecil, menengah, dan besar. Dalam melakukan usaha penangkap ikan dari tiga kelompok nelayan tersebut digunakan sekitar 15 s/d 25 jenis alat penangkap yang dapat dibagi dalam empat kelompok sebagai berikut.

Kelompok Alat Tangkap Ikan Nelayan


1 Pukat Payang termasuk lampara, Pukat pantai, Pukat cincin
2 Jaring Jaring insang hanyut, Jaring insang lingkar, Jaring klitik, Jaring trammel
3 Jaring Angkat Bagan Perahu, Bangan Tancap, Bagan Rakit, Serok, Bondong dan banrong
4 Pancing Rawi tuna, Rawai hanyut selain, Rawai tetap, Huhate, Pancing tonda, Pancing tangan-handline
 

Penjelasan Singkat tentang Alat Penangkap Ikan Laut

Pukat cincin harus berbentuk selembar jaring yang terdiri dari sayap dan pembentuk kantong. Keberhasilan pengoperasian pukat cincin dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu ketepatan melingkari gerombolan ikan, kecepatan tenggelam pemberat dan kecepatn penatikan tali kolor. Pengaturan jaring harus tepat dan cepat sehingga gerombolan atau kawanan ikan tidak punya kesempatan untuk keluar dari lingkaran jaring. Payang mempunyai bentuk terdiri dari sayap, badan dan kantong, dua buah sayap yang terletak di sebelah kanan dan kiri badan payang, setiap sayap berukuran panjang 100-200 meter, bagian badan jaring sepanjang 36-65 meter dan bagian kantong terletak di belakang bagian badan payang yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan ikan adalah sepanjang 10-20 meter. Jaring insang hanyut yang digunakan harus mempunyai spesifikasi yang terdiri dari lima faktor utama, yaitu daya apung jaring harus lebih besar dari pada daya tenggelamnya, warna jaring yang baik adalah hijau sampai biru muda, benang yang digunakan adalah nylon benang ganda atau tunggal. Besar mata jaring adalah 2,5-3,0 inci yang dipasang pada tali ris atas dengan koefisien pengikatan 30-40% Jaring lampara mirip jaring payang yaitu terdiri dari sayap kiri dan kanan di samping kantong. Jaring tersebut dilengkapi dengan sebuah cincin dari besi berdiameter sekitar 2 meter. Kantong lampara lebih cenderung menggelumbung agar ikan pelagis kecil yang ditangkap tidak mudah mati (ikan umpan hidup). Jaring angkat adalah jaring yang diturunkan di laut dan diangkat secara vertikal ke atas pada saat gerombolan ikan ada di atas jaring tersebut. Jaring angkat ditempatkan di beberapa jenis bagan di laut atau dioperasikan dari perahu kecil maapun langsung oleh para nekayan dekat pantai. Berdasarkan bentuk dan cara pengoperasian ada beberapa macam jaring angkat maupun jaring dorong, misalnya bagan tancap (stationary), bagan rakit, bagan perahu, kelong Betawi, serok, jaring rajungan dan kepiting, Bondong dan banrong. Pecak dan Anco, jaring dorong, sodo biasa, sodo perahu, sodo sangir, siru, siu, songko dan seser. Dogol, cantrang, dapang, potol, payang alit bentuk alat penangkap tersebut mirip payang tetapi ukuran lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya ia menyerupai cicncin pukat (trawl), yaitu untuk menangkap ikan demersal dan udang. Jaring Penggiring adalah jaring yang dioperasikan sedemikian rupa, yaitu dengan melakukan penggiringan atau menghalau ikan-ikan agar masuk jaring atau menggerakkan jaring itu sendiri dari tempat yang agak dalam ke tempat yang lebih dangkal untuk kemudian dilakukan penangkapan ikan. Jaring penggiring atau drive-innet dapat terdiri dari jaring sayap dan jaring kantong, dapat juga berbentuk segi tiga atau segi empat lengkap dengan jaringan kantong. Jenis-jenis drive in-net yang terkenal di Indonesia adalah :muroami, soma malalugis, jaring kalase, jaring klotok, jaring saden,
pukat rarape, ambai, pukat rosa, dan talido. Alat pancing terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali dan mata kail. Jumlah mata yang terdapat pada tiap perangkat pancing bisa tunggal maupun ganda, bahkan banyak sekalli (beberapa ratus mata kail) tergantung dari jenis pancingnya. Selain dua komponen utama tali dan mata pancing, alat pancing dapat dilengkapi dengan komponen lainnya, misalnya tangkai (pole), pemberat, pelampung dan kilikili (swivel). Pada umumnya mata pancing diberikan umpan baik dalam bentuk mati maupun hidup atau umpan tiruan. Banyak mavam alat pancing digunakan oleh para nelayan, mulai dari bentuk yang sederhana sampai dalam bentuk ukuran skala besar yang digunakan untuk perikanan industri.

Daftar TTG Perikanan Tangkap Nama Teknologi Tepat Guna


1. Jaring Insang 3 Lembar
2. Penangkapan Udang
3. Penangkapan Udang Barong
4. Jaring Insang Satu Lembar
5. Penangkapan Ikan Cakalang
6. Jaring Ingsang Lingkar
7. Jaring Ingsang Giring
8. Alat Pengering Ikan Berbahan Bakar Sampah Plastik
9. Bubu Ikan Demersal
10. Bubu Gurita
11. Bubu Pintur Untuk Udang dan Kepiting
12. Bubu Keong Macan dari Bambu
13. Bubu Kepiting Bakau
14. Bubu Keong Macan dari Waring
15. Bubu Ikan Lindung dari Paralon
16. Bubu Ikan Lindung dari Bambu
17. Bubu Kepiting dan Udang Laut Dalam
18. Bubu Ikan Kakap
19. Pancing Cumi-Cumi
20. Kapal Ikan Hidup
21. Pancing Ranggung
22. Rawai Cucut
23. Rawai Dasar Untuk Ikan Kakap
24. Tuna Long Line
25. Pancing Rawai
26. Pancing Tonda
27. Payang
28. Pukat Cincin
29. Set Net
30. Sero
31. Bagan Perahu
32. Garuk/Saru
33. Jala Lempar
34. Model Kombinasi Flapper, Selektor dan Mata Jaring Bujursangkar Untuk Efisiensi Tenaga, Efektivitas Usaha dan Pelestarian Sumberdaya Ikan Pada Alat Tangkap
35. Teknologi Penangkapan Ikan dengan Jaring Millenium
36. O’o Line Alat Penangkapan Ikan Hias
37. Alat Pemanggil Ikan “Pikat”
38. Atraktor Cumi-Cumi
39. Set Net 2
40. Impes : Alat Penangkapan Udang
41. Alat Pemanggil Ikan
42. Bubu Udang Barong
43. TEKNOLOGI SET NET 3

Kategori Spesies

o Demersal Besar (22)
o Demersal Kecil (30)
o Ikan Hias (84)
o Krustasea (19)
o Mamalia (4)
o Moluska (11)
o Pelagis Besar (54)
o Pelagis Kecil (52)
o Sumber Daya Perikanan Lainnya (12)
o Perizinan Usaha Penagkapan Ikan
o Perizinan Asosiasi Organisasi Perikanan

Produksi ikan untuk kawasan sentra produksi penangkapan di wilayah pesisir dan wilayah perairan umum, meliputi:

1. Wilayah perairan umum meliputi kecamatan Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, Kenohan, Muara Kaman dan Kembang Janggut.
2. Wilayah pesisir meliputi kecamatan Anggana, Muara Jawa, Samboja, Muara Badak, Marang Kayu dan Sanga-Sanga. Produksi perikanan di Kabupaten Kutai timur pada tahun 2010 terealisasi sebesar 132.065,94 ton dari target produksi sebesar 119.187,00 ton, dengan nilai produksi Rp. 3.301.648.500,-. Kenaikan produksi ini dicapai dari kegiatan penangkapan 74.784 ton dan kegiatan budidaya sebesar 57.281,94 ton. Jika dibandingkan produksi perikanan pada tahun 2009 sebesar 93.467,0 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 2.063.504.000,- maka kenaikan produksi yang dicapai sebesar 41,29 persen. Produksi ini dicapai dari kegiatan penangkapan 52,045 ton dan budidaya 41.440 ton. Konsumsi hasil perikanan masyarakat Kabupaten Kutai timur pada tahun 2010 sebesar 72,4 kg/kapita/tahun, keadaan ini meningkat sebesar 0,8 persen dari angka pada tahun 2009 sebesar 71,8 kg/kapita/tahun.

Fishing ground

Potensi Kelautan & Perikanan

Potensi pengembangan usaha perikanan dan kelautan baik berupa penangkapan maupun budidaya di Kabupaten Kutai timur cukup besar. Hal ini ditunjang dengan keberadaan pantai sepanjang 187,5 km, perairan laut kurang lebih 1.312,5 km persegi dan perairan umum kurang lebih 79.228,15 ha (Danau 19.217 ha, sungai 22.302,15 ha, Rawa 37.661 ha, waduk 48 ha) dan embung 175 ha (lahan galian eks batu bara) dan Mina padi (INMINDI).

Dalam pengembangan usaha budidaya telah dikembangkan suatu kawasan sentra produksi yaitu:
1. Kawasan Sentra Produksi Wilayah Hulu
Meliputi kecamatan Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, Kembang Janggut dan Muara Kaman dengan komoditas unggulan ikan patin, jelawat dan betutu.
2. Kawasan Sentra Produksi Wilayah Tengah
Meliputi kecamatan Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Kulu dan Loa Janan, dengan komoditas unggulan berupa ikan nila dan ikan mas.
3. Kawasan Sentra Produksi Wilayah Pesisir
Meliputi kecamatan Anggana, Muara Jawa, Samboja, Muara Badak, dan Marang Kayu dengan komoditas unggulan udang windu, bandeng dan kepiting.